Rezeki Terjamin, Perlu Kerja?

Rezeki Terjamin, Perlu Kerja?

Rezeki manusia, bahkan seluruh makhluk di dunia hakikatnya telah dijamin oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Telah ditentukan dan telah dicatat bagiannya untuk setiap makhluk. Jadi rezeki tidak mungkin tertukar.

Jika memang rezeki kita, meski saat ini belum dipegang, namun suatu saat akan datang menghampiri kita. Pun jika ada yang di dalam genggaman kita, namun bukan rezeki kita, maka suatu saat rezeki tersebut akan pergi meninggalkan kita dan menghampiri tuannya yang sebenarnya. Jadi tidak perlu iri dengan rezeki orang lain, lebih baik kita minta kepada Allah, berdoa memohon keberlimpahan rezeki yang berkah.

Lantas apakah kita perlu bekerja, jika rezeki sudah dijamin?

Ustadz Khalid Basalamh mengilustrasikan rezeki ibarat pohon yang berbuah. Ada kalanya buah itu berjatuhan dari pohon dan berserakan di tanah. Ada pula buah yang yang masih bergelantungan di dahan pohon.

Buah yang berjatuhan ini, mewakili rezeki yang bisa dinikmati siapa saja secara cuma – cuma sepertu rezeki berupa udara yang dihirup, cahaya yang memudahkan kita dalam melihat, tiba- tiba diantar masakan, sayur dan buah dari tetangga, tiba-tiba mendapat warisan tanah berhektar-hektar, dsb.

Sedangkan buah yang bergelantungan mewakili rezeki yang perlu usaha untuk mendapatkannya. Perlu ikhtiar. Perlu mempelajari ilmunya, mempraktikkan tekniknya secara konsisten. Mau Muslim ataupun kafir, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan rezeki ini asalkan berusaha. Maka tidak perlu heran, bahkan orang kafir pun yang tidak meyakini adanya Allah, asal bekerja dengan giat dan memiliki wawasan dan keterampilan yang baik, maka ia bisa mendapatkan kejayaan di dunia. Dalam hal ini, rezeki harus dijemput dengan usaha, tidak ada korelasinya dengan keislaman dan keimanan.

Namun perlu kita pahami bersama bahwa dalam mencari harta antara mukmin dan kafir sebenarnya diperintahkan oleh Allah untuk mencari rezeki dengan mengambil yang halal dan thoyyib. Mari cek QS. Al-Baqarah ayat 168. Ini perintah Allah kepada seluruh manusia, islam maupun yang bukan islam.

Orang kafir bisa jadi tidak mengerti konsep ini sehingga tidak mengindahkan cara maupun bentuk dari rezeki tersebut apakah halal atau haram. Semuanya diambil karena hanya mementingkan dunianya. Sedangkan orang yang beriman, wajib memperhatikan segi halal dan thoyyib ini. Yang dicari bukan hanya keberlimpahan, namun dipastikan halal dan thoyyibnya. Bukan hanya menjemput rezeki untuk urusan dunia saja, melainkan juga melakukannya sesuai dengan perintah Allah agar berkah di dunia dan selamat di akhiratnya.

error: Content is protected !!
×

Assalaamualaikum!

Klik Admin di bawah ini jika ada yang ingin ditanyakan atau ingin request link akses.

× wa me!